#4
Senyum.
Seseorang pernah mengatakan kepada ku, bahwa ketika kita
melihat sesuatu yang indah kemudian kita mengingatnya – itulah cinta. Hari ini,
itu terjadi lagi pada ku.
Malam kemarin sangatlah tidak seperti biasanya, aku merasa
mengantuk lebih awal. Siapa sangka, tidurku yang lebih awal di malam itu
membuatku terbangun di dua-pertiga malam.
Tidak biasanya aku bangun sepagi itu, rasanya seperti sebuah prestasi
yang membanggakan. Padahal beberapa menit yang lalu tidurku terganggu oleh
mimpi buruk, adakah aku memiliki salah?
aku belum Sholat Isya.
Pagi itu terasa berbeda sekali, air di dalam bak mandi
terasa lebih dingin dari biasanya, embun lebih sejuk dari biasanya, udara yang
lebih segar dari biasanya, dan tentu kopi yang lebih nikmat dari biasanya. Entah
perasaanku saja yang merasa pagi ini berbeda atau semua orang pun sama, yang
jelas pagi ini adalah waktu yang sangat kunantikan dari dua bulan yang lalu. Karena
bila aku beruntung, aku dapat melihat senyuman terindah yang Tuhan ciptakan
lewat hambaNya. Senyum yang sangat kukenal, senyum yang sangat kurindu, dan
senyum yang sangat ingin kulihat hari ini. Tunggu, mengapa aku tersenyum?.
Di depan kacaku kukatakan “Aku sudah siap”. Kaos hijau yang
ditutupi kemeja biru, celana panjang coklat muda, ditambah dengan sepatu,
harusnya sudah dapat membuatku menjadi sedikit kasual. Dengan kuda besi ku aku
berlari memecah waktu, tak sabar menanti senyum itu kembali terlihat. Tepat setengah
delapan pagi kumenyapa kampusku, berpapasan menyalami mahasiswa baru, kulanjut berjalan
menghampiri teman-temanku. Seperti biasa kita saling mengejek satu sama lain dan
bergurau, kita semua tertawa, bahagia, dan tersenyum. Sampai saat ini belum
kurasa Dewi Fortuna memihak kepadaku. Aku masih saja bergurau dengan teman-teman
yang lainnya. Menit berlalu berhimpit mengiring detik, waktu kelas sudah tiba. Aku
belum beruntung.
Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi mengantri untuk memasuki
ruang kelas yang terasa sempit, antara mereka dan teman-temanku kita saling
menyapa, jiwaku serasa masih tertahan di dekat pintu itu, seperti belum ikhlas
dengan yang terjadi pagi ini hingga pada sepersekian detik ketika beberapa
orang lewat di depanku, dari balik kepala-kepala yang berlalu kumelihat sesuatu
yang membuat jiwaku merasa kembali, sebuah hal yang tentu ku sangatlah kuingat,
sebuah hal yang sedari tadi kutunggu, dan yang membuat jiwaku tersipu. Senyum itu.
Bangku dibelakang terlihat kosong, menarik.., favoritku. Karena
dari bangku sanalah aku mulai mengenal, seraut wajah berisi senyuman. Ku tak menyangka
dapat melihat senyum itu lagi, indah kurasa. Bolehkah aku memilikinya? Bolehkah
aku menjaganya? Bolehkah aku menjadi alasan dari setiap senyumnya?.
Komentar
Posting Komentar